
JAKARTA, KLIKINFOKOTA.CO.ID – Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi investasi dengan lebih mudah. Namun, teknologi ini juga dimanfaatkan untuk membuat konten palsu yang berpotensi menjerat investor, salah satunya melalui video deepfake yang meniru wajah dan suara tokoh publik.
Dalam penipuan investasi, teknologi deepfake dapat digunakan untuk membuat seolah-olah seorang tokoh terkenal merekomendasikan saham atau menawarkan investasi dengan keuntungan besar. Padahal, video tersebut bisa saja merupakan hasil manipulasi menggunakan AI.
Selain video palsu, investor juga perlu mewaspadai influencer sintetis, dokumen investasi palsu, serta materi promosi keuangan yang dibuat untuk memengaruhi keputusan. Tampilan profesional maupun sosok yang dikenal tidak serta-merta menjamin bahwa informasi investasi tersebut benar.
Karena itu, investor perlu memeriksa keaslian informasi dan legalitas pihak yang menawarkan investasi melalui sumber resmi. Tawaran keuntungan tinggi tanpa risiko, desakan untuk segera mentransfer dana, serta permintaan data pribadi juga patut dicurigai.
Di sisi lain, AI tetap dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mempelajari investasi, mencari informasi, dan memahami istilah keuangan. Namun, hasil yang diberikan teknologi tersebut belum tentu akurat, mutakhir, atau sesuai dengan kondisi keuangan dan profil risiko setiap investor.
Investor yang menggunakan platform investasi berbasis AI juga perlu memahami bagaimana teknologi tersebut menghasilkan rekomendasi. Setiap rekomendasi harus dinilai berdasarkan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko investasi, bukan diterima begitu saja.
Pentingnya kewaspadaan di era digital menjadi salah satu pesan dalam World Investor Week (WIW) 2026. Melalui kegiatan Ring the Bell for Financial Literacy 2026 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 Oktober 2026, edukasi investor mengangkat tiga isu utama, yakni Investor Resilience, Digital Deception, dan Scam Alert.
Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum BEI, Umi Kulsum, dalam sambutannya menekankan pentingnya sikap waspada dalam menghadapi perkembangan teknologi.
“Investor yang waspada selalu memverifikasi informasi dan menjaga keamanan datanya,” ujarnya.
BEI juga mengingatkan pentingnya perlindungan data dan akun keuangan. Investor disarankan tidak membagikan informasi pribadi, rekening, kata sandi, maupun kode keamanan kepada pihak yang tidak terverifikasi.
Penggunaan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun serta aktivasi autentikasi dua faktor jika tersedia juga dapat membantu memperkuat keamanan. Apabila menemukan dugaan penipuan, masyarakat dapat melaporkannya kepada pihak berwenang.
Melalui pemanfaatan AI secara bijak, verifikasi informasi, dan perlindungan data pribadi, investor diharapkan dapat lebih kritis dalam mengambil keputusan di tengah perkembangan teknologi digital.
Masyarakat dapat memperoleh informasi dan edukasi pasar modal melalui situs resmi BEI di www.idx.co.id serta kanal media sosial resmi Bursa Efek Indonesia. (Desi)




