
JAKARTA, KLIKINFOKOTA.CO.ID – Investor di pasar modal diingatkan untuk tidak mengambil keputusan secara impulsif ketika harga saham mengalami fluktuasi. Disiplin, pemahaman terhadap tujuan investasi, dan kesiapan kondisi keuangan menjadi sejumlah faktor penting untuk menjaga ketahanan investor dalam menghadapi perubahan pasar.
Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Umi Kulsum, mengatakan ketangguhan investor tidak ditentukan oleh kemampuan memprediksi arah pasar, melainkan dari kedisiplinan dalam mengambil keputusan.
“Investor yang tangguh adalah investor yang tetap disiplin serta tidak mengambil keputusan secara impulsif ketika pasar berfluktuasi. Dengan semakin luasnya akses masyarakat ke pasar modal, diharapkan masyarakat juga semakin mampu untuk mengambil keputusan investasi secara legal, logis, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing,” ujar Umi.
Fluktuasi harga saham merupakan bagian dari aktivitas pasar modal. Pergerakannya dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kinerja perusahaan hingga kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan. Penurunan harga dalam waktu singkat terkadang memicu kekhawatiran, terutama bagi investor yang belum memiliki perencanaan investasi yang matang.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, investor perlu memahami tujuan dan jangka waktu investasinya. Kedua hal ini menjadi dasar dalam menentukan instrumen yang sesuai dengan kondisi keuangan serta tingkat risiko yang mampu ditanggung.
Diversifikasi juga dapat menjadi salah satu cara mengelola risiko. Strategi ini dilakukan dengan menyebarkan dana ke beberapa aset atau instrumen investasi sehingga portofolio tidak sepenuhnya bergantung pada kinerja satu jenis investasi.
Selain strategi pengelolaan portofolio, investor perlu mengenali pengaruh emosi dalam mengambil keputusan. Rasa panik ketika harga turun maupun kepercayaan diri berlebihan saat harga naik dapat mendorong keputusan yang terburu-buru. Karena itu, perubahan pasar dalam jangka pendek perlu dibedakan dari tujuan investasi jangka panjang.
Kesiapan keuangan juga tidak kalah penting. Sebelum berinvestasi, masyarakat perlu memastikan memiliki dana darurat dan mengelola utang secara bijak. Dengan kondisi keuangan yang lebih siap, investor tidak harus terburu-buru mencairkan investasinya untuk memenuhi kebutuhan mendesak, terutama ketika pasar sedang kurang menguntungkan.
Investor juga disarankan mengevaluasi portofolio secara berkala agar komposisinya tetap sesuai dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko. Penyesuaian dapat dipertimbangkan apabila kondisi keuangan atau tujuan investasi berubah. Namun, keputusan tersebut sebaiknya tidak hanya didasarkan pada berita terkini, tren media sosial, atau tindakan investor lain.
Ketika menghadapi tekanan pasar atau perubahan kondisi keuangan yang signifikan, investor dapat mencari panduan dari profesional keuangan yang berkualifikasi dan memiliki izin.
Pesan mengenai ketahanan investor tersebut menjadi salah satu fokus World Investor Week (WIW) 2026. Kampanye tahun ini mengangkat tiga isu utama, yaitu Investor Resilience, Digital Deception, dan Scam Alert. Melalui tema tersebut, investor didorong untuk membangun ketahanan finansial dan psikologis, bersikap kritis terhadap informasi investasi, serta mewaspadai berbagai modus penipuan.
Di Indonesia, BEI turut mendukung kampanye tersebut melalui kegiatan Ring the Bell for Financial Literacy 2026 bertema “Stay Smart. Stay Alert. Stay Resilient”. Kegiatan yang berlangsung pada 14 Oktober 2026 di Main Hall BEI, Jakarta, itu dihadiri calon investor, investor, dan media. Salah satu sesi utamanya berupa talk show mengenai ketahanan investor dan pengelolaan keuangan.
Menjadi investor yang tangguh bukan berarti tidak pernah merasa khawatir ketika pasar bergerak. Ketahanan dibangun melalui pemahaman investasi, tujuan yang jelas, kesiapan kondisi keuangan, serta disiplin dalam menjalankan perencanaan jangka panjang. (Desi)




