
KLIKINFOKOTA.CO.ID – Sebuah komentar di grup WhatsApp kini menjadi bahan perbincangan politik serius di Natuna. Raja Mustakim, suami dari Bupati Natuna Cen Sui Lan, dilaporkan ke polisi oleh Marzuki, seorang politisi Gerindra sekaligus anggota DPRD Kepri. Alasannya sederhana namun tajam: komentar yang dianggap menghina di dalam grup internal partai.
Kalimat “tak tahu diri” dan “tak tahu ukuran bajunya sendiri” bukan lagi sekadar sindiran. Di dalam dunia politik lokal, kata-kata bisa punya makna lebih besar dari jabatan. Dalam kasus ini, komentar Mustakim dianggap bukan sekadar opini pribadi, tapi semacam “tamparan simbolik” terhadap posisi politik seorang kader.
Banyak yang bertanya, apakah wajar seorang bukan pejabat publik—namun berada dalam lingkaran kekuasaan—mengeluarkan komentar seperti itu di ruang yang setengah privat, setengah politis? Apakah grup WhatsApp elite partai bisa dianggap tempat yang bebas dari etika dan tanggung jawab komunikasi?
Natuna mungkin tidak seterang panggung politik nasional, tapi justru karena ruangnya lebih sempit, dinamika kekuasaan di daerah menjadi lebih personal dan mudah memanas. Di tempat seperti ini, relasi politik seringkali berbaur dengan hubungan sosial: satu komentar bisa melukai lebih dari satu orang, satu tindakan bisa mencoreng nama lebih dari satu institusi.
Pelaporan ini memunculkan dua kemungkinan tafsir. Bagi sebagian pihak, ini adalah bentuk penegakan marwah partai dan pembelaan terhadap martabat. Bagi pihak lain, ini bisa dianggap langkah politis untuk menunjukkan batas kekuasaan, bahkan menantang dominasi simbolik dari lingkaran kekuasaan yang terlalu percaya diri.
Dari sini kita bisa menarik beberapa pelajaran penting. Pertama, komentar digital tak pernah sepenuhnya privat. Kedua, hukum—terutama UU ITE—bukan sekadar alat pertahanan, tapi juga bisa menjadi peringatan moral. Dan ketiga, siapapun yang berada di sekitar kekuasaan, meski tak punya jabatan formal, tetap membawa beban simbolik dari nama besar yang menaunginya.
Akhirnya, kita diingatkan kembali bahwa WhatsApp hari ini bukan sekadar alat komunikasi. Ia bisa berubah menjadi panggung politik, senjata sosial, atau bahkan arena pembuktian hukum. Dalam dunia seperti ini, kehati-hatian bukan pilihan, melainkan keharusan. (Tim Redaksi)

