Penenggelaman KIA Dianggap Rusak Lingkungan

NATUNA KLIKINFOKOTA.CO.ID – Sepuluh KIA berbendera Vietnam, yang tertangkap di Perairan WPP NRI 711 – Laut Natuna Utara ditenggelamkan Pada Rabu tanggal (31/03/21) di Perairan Kecamatan Pulau Tiga Kabupaten Natuna. Dilansir dari bursakota.co.id dari sepuluh KIA yang dimusnahkan ini 8 unit kapal merupakan barang bukti yang perkaranya ditangani penuntut umum Kejaksaan Negeri Natuna, sedangkan 2 unit kapal merupakan barang bukti perkara dalam kasus perikanan yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri Karimun.

Penenggelaman KIA tersebut mendapat tanggapan dari tokoh Masyarakat Kec. Pulau Tiga dan Kec. Pulau Tiga Barat, “Penenggelaman KIA itu dilakukan dengan cara diledakkan dan terbakar,” ungkap narasumber yang tidak mau menyebutkan namanya.

Menurut salah satu narasumber lain yang menghubungi klikinfokota.co.id melalui sambungan telepon seluler pada (01/04/21) di Pulau Tiga. Melakukan pembicaraan melalui telepon genggam mengatakan, “Saya pernah menyampaikan kepada pihak-pihak terkait. Pada setiap kali penenggelaman KIA itu, selalu terjadi pencemaran dan pengrusakan lingkungan. Seperti sampah yang berserakan dari sisa bangkai kapal yang terbakar tersebut, hanyut di pinggir pantai, sisa bangkai yang tenggelam akan menggerus terumbu karang yang membuat ekosistem laut terganggu bahkan bisa terjadi kerusakan terumbu karang.”

Menurut narasumber tersebut, pihaknya sudah berulangkali melakukan pemantauan bawah laut pada saat kegiatan penenggelaman KIA yang dulu dilaksanakan di sekitaran pantai pulau Setai, pantai Pulau Setanau (Pulau Setanau, salah satu lokasi Geosit Natuna), pantai Setebak yang terumbu karangnya mengalami kerusakan hebat akibat hantaman sisa bangkai KIA yang hanyut ke pantai di sapu gelombang. Situasi makin parah ketika material berserakan dari kapal yang terbakar itu, sisa jaring dan tali-temali yang kadang bisa menjerat kapal yang lewat di sekitaran lokasi penenggelaman itu, “Inikan jelas-jelas menimbulkan masalah baru lagi,” kata dia.

“Akan lebih bijak lagi kalau pihak terkait menaruh anggaran penenggelaman KIA tersebut dengan cara menggunakan jasa tenaga masyarakat untuk mengumpulkan batu. Untuk kemudian KIA diisikan dengan batu hingga tenggelam di laut dalam yang tidak ada terumbu karangnya. Itu lebih bernilai ekonomis bagi masyarakat nelayan, karena KIA yang tenggelam itu akan menjadi rumah ikan, menjadi spot memancing bagi masyarakat,” demikian kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan Natuna Zakimin melalui sambungan telepon selulernya dengan wartawan klikinfokota.co.id pada Kamis (1/4/21), di Ranai mengatakan, ” Dinas Kelautan dan Perikanan Natuna dalam konteks ini, membantu memfasilitasi Kajari Natuna yang sedang melaksanakan lanjutan eksekusi KIA. Jumlahnya ada 10, 2 proses pengadilan Kajari Karimun dan 8 proses Kajari Natuna. Itu yang saya ketahui” kata Zakimin.

Menurut Zakimin hadir juga dalam kegiatan penenggelaman KIA yaitu Sekda Natuna dan Dinas Kelautan Dan Perikanan Natuna. Dalam keseluruhan pelaksanaan itu, Kajari Natuna dibantu oleh Kajari Karimun.

Pihak yang melakukan penangkapan KIA adalah PSDKP Kementerian Kelautan Dan Perikanan, satuan kerjanya berada di Tanjung Kumbik di bawah Stasiun Batam, demikian keterangan Kadislutkan Natuna itu.

Menurut Zakimin, penenggelaman KIA itu ada berbagai metode, ada cara ditenggelamkan langsung, dibakar atau diledakkan. Sedangkan tanggal 31/03/21 itu memang dengan cara dibakar, agar barang bukti tidak bisa dimanfaatkan lagi, begitu keterangan Kadislutkan Natuna.

Kadislutkan Natuna Zakimin juga mengakui bahwa akibat pembakaran itu, terdapat serpihan-serpihan yg akan hanyut bisa tersangkut ke pompong nelayan. Atau bisa saja tersangkut di alat tangkap nelayan yang sedang beraktifitas seperti jaring. Akan tetapi menurut Kadislutkan Natuna itu, sampai saat berita ini diterbitkan belum ada masyarakat nelayan yang melaporkan ke pihaknya terkait masalah itu.

Posisi Pemda Natuna, menurut Zakimin, adalah membantu pelaksanaan eksekusi KIA oleh inkracht-nya Kajari Natuna dan Kajari Karimun yang dihadiri oleh Kepala Kajati dan Sekjen KKP yang juga menjabat Plt Dirjen PSDKP yang membawahi Satker Tanjung Kumbik dan stasiun Batam.

Dalam pelaksanaan eksekusi KIA itu, menurut Zakimin juga diundang tokoh masyarakat, Camat Pulau Tiga, Camat Pulau Tiga Barat dan beberapa orang Kepala Desa, akan tetapi Kadislutkan Natuna itu tidak menyebutkan secara rinci terkait nama Kepala Desa yang hadir dalam kegiatan eksekusi KIA tersebut.

Atas Keluhan Masyarakat terhadap dampak lingkungan yg diakibatkan oleh penenggelaman KIA dengan metode dibakar ini Kadislutkan Natuna mengakui memang ada kewenangan pihaknya terkait dampak ekonomis terhadap nelayan kecil. Sedangkan jika dilakukan metode penenggelaman KIA maka diharapkan dapat meningkatkan hasil tangkap nelayan, sehingga diharapkan penenggelaman KIA itu menjadi rumpon atau rumah ikan.

Namun mengenai metode penenggelaman itu sendiri, adalah menjadi kewenangan Kajari Natuna dibantu oleh Kajari Karimun, jika masyarakat ingin menyampaikan keluhan kepada pihak terkait silakan dan pihaknya akan siap untuk mendampingi, terang Zakimin.

Kalau masyarakat merasa khawatir, terhadap dampak lingkungan yang terjadi, “Mari kita evaluasi bersama untuk dapat dijadikan bahan perbaikan kedepannya,” kata Kadislutkan Natuna itu menjelaskan. (fin)

%d blogger menyukai ini: