
Presiden Prabowo Subianto melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani, Senin (8/9/2025). (Foto: tangkapan layar chanel youtube Bisniscom)
JAKARTA, KLIKINFOKOTA.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto resmi melakukan reshuffle kabinet dengan mengganti Sri Mulyani dari jabatan Menteri Keuangan pada Senin (8/9/2025). Posisi strategis yang telah ditempati Sri Mulyani hampir 14 tahun dalam dua dekade terakhir itu kini dipercayakan kepada Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020.
Pergantian ini langsung direspons pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,28% ke level 7.767. Sementara kurs rupiah non-deliverable forward (NDF) satu bulan terhadap dolar AS melemah 1,07% menjadi Rp16.585 per sore ini.
Sebelum keputusan ini, isu mengenai rencana pengunduran diri Sri Mulyani sudah beberapa kali mencuat. Rumor tersebut kembali memanas setelah rumahnya sempat dijarah massa dalam puncak demonstrasi akhir Agustus lalu. Namun, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pencopotan Sri Mulyani murni merupakan hak prerogatif Presiden.
Sri Mulyani selama ini dikenal sebagai simbol kredibilitas fiskal Indonesia. Selama tiga era pemerintahan, ia dinilai berhasil menjaga kepercayaan investor hingga membawa Indonesia meraih peringkat kredit investment grade dari lembaga pemeringkat global.
Adapun Purbaya bukan nama baru di pemerintahan. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, serta Staf Khusus Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sebelum masuk ke lingkaran birokrasi, Purbaya memiliki rekam jejak panjang di dunia riset dan pasar modal, antara lain sebagai ekonom senior di Danareksa Research Institute serta Direktur Utama PT Danareksa Sekuritas.
Dampak dan Arah Kebijakan ke Depan
Reshuffle di posisi Menteri Keuangan ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan investor. Pasar melihat adanya ketidakpastian terkait disiplin fiskal pemerintah ke depan.
Beberapa indikator yang menjadi sorotan jangka pendek antara lain:
- Arus dana asing di pasar obligasi dan saham pasca-reshuffle.
- Pergerakan yield obligasi pemerintah, baik di pasar sekunder maupun hasil lelang primer yang dijadwalkan Selasa (9/9).
- Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dalam horizon yang lebih panjang, perhatian investor akan tertuju pada arah kebijakan fiskal pemerintahan Prabowo dan efektivitasnya dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Untuk sementara, sejumlah analis menyarankan langkah defensif dengan memperhatikan emiten konsumer yang memiliki neraca keuangan sehat dan risiko mata uang rendah, seperti Sido Muncul ($SIDO), Mayora ($MYOR), dan Cisarua Mountain Dairy ($CMRY).
(Desi)




