
TAPANULI TENGAH, KLIKINFOKOTA.CO.ID – Panggang Pacak merupakan salah satu makanan khas tradisional yang berasal dari kawasan pesisir Pantai Barat Sumatera Utara, yakni Tapanuli Tengah (Tapteng) -Sibolga.
Konon, dulunya panggang pacak disajikan sebagai salah satu hidangan wajib raja-raja ketika ada sebuah kegiatan adat di daerah Tapteng-Sibolga. Panggang Pacak juga merupakan suatu kuliner tradisional yang bahan dasarnya ikan laut, seperti ikan serai, kembung, gambolo dan lainya dengan dipadukan bumbu atau rempah rempah yang mudah didapatkan, sehingga perpaduan ikan dan racikan bumbu ini menjadikannya sebagai kuliner yang begitu terasa nikmat dan lezat bagi penikmatnya.

Kini, Panggang Pacak yang merupakan suatu kuliner hasil kerajinan tradisional masyarakat khususnya di Tapanuli Tengah-Sibolga sudah sangat jarang disajikan sebagai menu utama acara-acara adat maupun lainnya. Akibat hal itu, agar tetap menjaga keberadaan dan eksistensi Panggang Pacak di kalangan masyarakat dan tidak tergerus oleh kemajuan zaman.
Salah seorang penggiat budaya, Okta Rizal Karsih menginisiasi suatu kegiatan Festival, yakni Festival Panggang Pacak Masyarakat Desa Sitiris-tiris yang dilaksanakan pada hari Sabtu (4/11) kemarin, bertempat di gedung Pengelolaan Desa Sitiris-tiris Kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapteng.
Kegiatan Festival Panggang Pacak yang diinisiasi oleh Okta Rizal Karsih dan Tim ini didukung penuh oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara.
Kepada awak media, Okta yang merupakan sapaan akrabnya didampingi oleh seluruh Tim Kerja Festival menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah kegiatan yang sengaja ditata untuk menyampaikan bahwa Panggang Pacak adalah salah satu kuliner yang tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dan festival ini ditujukan untuk dapat menumbuh kembangkan rasa cinta terhadap kuliner Panggang Pacak. “Festival Panggang Pacak Masyarakat Desa Sititis-Tiris ini kami sengaja adakan dengan tujuan yang pertama untuk menyampaikan dan menginformasikan bahwa Panggang Pacak adalah salah satu kuliner kategori kerajinan tradisional yang tercatat sebagai salah satu WBTB di Indonesia dan yang kedua festival ini kami rangkai semaksimal mungkin walau dalam keadaan sederhana dengan tujuan juga untuk dapat menumbuhkan rasa cinta sehingga dapat kembali menumbuhkan eksistensi dan ini sebagai upaya pelestarian terhadap panggang pacak, kata Okta.
Lanjut Okta, bahwa kegiatan festival ini diisi dengan serasehan dan dilanjutkan dengan demo memasak dan lomba serta yang menjadi peserta festival yakni kelompok perempuan desa. ” Festival Panggang Pacak di Desa Sitiris -tiris diisi dengan sebuah serasehan oleh narasumber yang berbicara tentang sejarah panggang pacak, nilai panggang pacak terhadap adat dan kebudayaan masyarakat Tapteng hingga dilanjutkan dengan demo memasak, mulai dari pengenalan bahan dasar dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan dalam memasak panggang pacak,” Jelasnya.
Peserta dalam festival ini, kata Okta, langsung dinominasi oleh kelompok perempuan desa yang kami harapkan dapat untuk membudayakan masakan panggang pacak seminimalnya di rumah masing-masing karena bahan-bahan untuk memasak panggang pacak sangat mudah didapatkan, mulai dari ikannya hingga bahan bumbunya, tandasnya.
Amatan media di lapangan, jumlah peserta yang mengikuti Festival Panggang Pacak ini sebanyak 35 orang. yang dikemas dengan cara sederhana dan penuh keakraban, diakhiri dengan lomba memasak yang pesertanya dibagi empat kelompok.
Turut hadir Kepala Desa Sitiris-tiris, Rubiyanti Marpaung yang membuka langsung acara tersebut, sementara sebagai Narasumber Serasehan adalah Lodewick F.S. Marpaung serta Narasumber demo memasak yakni Arifin Marpaung, juga dibantu oleh beberapa orang yang termasuk dalam sebuah tim kerja yang terdiri dari beberapa dosen dan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Perikanan Dan Kelautan Matauli (STPKM) Pandan, Tapteng.
Okta juga menyampaikan rasa terimakasih dan rasa hormat yang besar kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara di Medan dan juga ucapan terimakasih kepada Kepala Desa bersama Jajaran Pemerintah Desa Sitiris-Tiris, atas dukungan penuh pendanaan dan semangat yang diberikan kepada kami dalam mensukseskan kegiatan festival ini, serta masyarakat desa yang begitu banyak mensupport dan memberikan masukan serta menyediakan tempat bagi kegiatan festival ini, jelas Okta.
Kami merasa terkesan dalam membangun dan melestarikan Kebudayaan Lokal, mudah-mudahan kita semua dapat bersua kembali di festival-festival selanjutnya dan kami berharap kita semua dapat saling bersinergi dan bahu membahu dalam rangka untuk terus memperkenalkan dan melestarikan Budaya Panggang pacak secara khusus kepada generasi penerus di Kabupaten Tapteng, tutup Okta. (ASWIN)




