
JAKARTA, KLIKINFOKOTA.CO.ID – Musim hujan 2026/2027 diperkirakan datang lebih lambat di banyak wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan mundur di 529 wilayah musim, atau sekitar 61 persen daratan Indonesia.
Perkiraan ini disampaikan saat El Niño berada pada tingkat sangat kuat. El Niño dapat mengurangi hujan dan memperpanjang musim kering. Kondisi ini juga terjadi bersama IOD positif, yaitu perubahan suhu laut yang memengaruhi hujan di Indonesia.
Menurut pembaruan BMKG pada 2 Oktober 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai mengalami musim hujan pada November dan Desember 2026. Sebanyak 185 wilayah diperkirakan mulai hujan pada November, sedangkan 266 wilayah lainnya pada Desember.
Musim hujan tidak akan datang bersamaan di seluruh Indonesia. Warga perlu memperhatikan informasi cuaca daerah masing-masing karena waktu peralihan dari kemarau ke hujan dapat berbeda.
Selain datang lebih lambat, musim hujan 2026/2027 juga diperkirakan berlangsung lebih singkat dari biasanya di 482 wilayah, atau sekitar 52 persen daratan Indonesia.
Meski demikian, bukan berarti seluruh musim hujan akan lebih kering. BMKG memperkirakan curah hujan selama musim hujan masih normal di 510 wilayah, atau sekitar 70 persen daratan Indonesia.
Hal yang perlu diwaspadai adalah masa kering yang lebih panjang sebelum hujan datang.
Siapkan persediaan air
BMKG mengimbau masyarakat menghemat air dan menambah tempat penyimpanan air di rumah, terutama di daerah yang masih mengalami masa tanpa hujan panjang.
BMKG mencatat 556 wilayah, atau sekitar 62 persen daratan Indonesia, masih mengalami musim kemarau. Di beberapa daerah, hujan bahkan tidak turun selama lebih dari 60 hari.
Warga dapat memastikan persediaan air untuk kebutuhan sehari-hari dan menggunakannya secara hemat selama kondisi kering berlangsung.
Waspadai kekeringan dan kebakaran
Masa kering yang lebih panjang dapat meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengingatkan semua pihak untuk waspada, terutama selama September-Oktober. Tanah dan tanaman kering lebih mudah terbakar.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi tentang cuaca dan potensi kebakaran, terutama jika tinggal di wilayah rawan.
Tetap waspada saat hujan datang
Musim hujan setelah masa kering panjang bukan berarti risiko bencana langsung hilang.
BMKG mengingatkan pemerintah dan masyarakat memperbaiki saluran air serta menyiapkan langkah penyelamatan jika terjadi banjir atau longsor pada awal dan puncak musim hujan.
Warga dapat memeriksa dan membersihkan saluran air di sekitar rumah. Jika tinggal di daerah rawan banjir atau longsor, warga juga perlu mengetahui jalur penyelamatan.
Perhatikan kesehatan dan lingkungan
Peralihan dari kemarau panjang ke musim hujan juga perlu diikuti perhatian terhadap kesehatan dan lingkungan.
BMKG menyarankan masyarakat bersiap menghadapi kemungkinan udara kurang sehat selama masa kering. Saat hujan mulai turun, genangan air perlu diwaspadai karena dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Membersihkan tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk dan menghilangkan genangan air dapat membantu mengurangi risiko penyakit.
Prakiraan musim tidak berarti cuaca di setiap daerah akan selalu sama. BMKG menyarankan masyarakat terus mengikuti informasi terbaru dan menyesuaikan persiapan dengan kondisi daerah masing-masing.
Dengan musim hujan yang diperkirakan datang lebih lambat, persiapan tidak perlu menunggu hujan pertama. Menghemat air, menjaga lingkungan, memeriksa saluran air, dan mengikuti informasi resmi cuaca dapat dilakukan mulai sekarang. (Desi)




