
JAKARTA, KLIKINFOKOTA.CO.ID – Kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membebani sejumlah wilayah di Kalimantan. Kondisi yang diperparah oleh penguatan El Niño dan degradasi lahan gambut tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga mengganggu akses masyarakat terhadap air bersih, aktivitas ekonomi, serta kesehatan akibat paparan kabut asap.
Laporan Associated Press (AP) menunjukkan sejumlah komunitas di Kalimantan menghadapi kesulitan memperoleh air ketika sungai mengering. Warga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan air bersih, sementara kegiatan seperti pertanian, perikanan, dan transportasi ikut terdampak.
Kondisi lahan gambut yang telah mengalami degradasi turut memperburuk situasi. Lahan gambut yang kehilangan kemampuan menyimpan air menjadi lebih mudah mengering dan terbakar ketika musim kemarau berlangsung. Kebakaran di lahan gambut juga lebih sulit dipadamkan karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah.
Dampaknya meluas ke luar wilayah yang terbakar. Kabut asap dari kebakaran di Kalimantan dilaporkan menyebar hingga Malaysia dan wilayah lain di Asia Tenggara, mengganggu kualitas udara serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat yang terpapar.
BNPB mencatat karhutla masih menjadi salah satu bencana dominan pada periode tertentu sepanjang 2026. Pada 7 September, penanganan masih dilakukan di enam provinsi prioritas, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pada September, operasi diperkuat di tiga provinsi di Kalimantan melalui koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah. Di Kalimantan Barat, kabut asap sempat disertai kualitas udara berbahaya dan gangguan jarak pandang.
Dashboard BNPB per 2 Oktober mencatat penanganan masih berlangsung di enam provinsi, dengan 5.540 titik hotspot dan luas lahan terbakar 850,3 hektare dalam 24 jam terakhir berdasarkan data yang ditampilkan.
Situasi ini menunjukkan karhutla merupakan persoalan berulang yang memerlukan pencegahan jangka panjang, bukan hanya pemadaman. Perlindungan dan pemulihan lahan gambut, pengawasan pembukaan lahan, kesiapsiagaan menghadapi musim kering, serta pemenuhan kebutuhan air masyarakat perlu berjalan beriringan.
Selama situasi berlangsung, masyarakat di wilayah terdampak kekeringan diimbau menggunakan air bersih secara bijak dengan mendahulukan kebutuhan pokok dan melaporkan kebutuhan mendesak kepada pemerintah daerah. Dengan musim kering dan El Niño yang masih menjadi faktor risiko, pemantauan perlu diarahkan pada pencegahan kebakaran berulang serta pemulihan lingkungan sebagai penyangga kehidupan masyarakat. (Desi)




