
Aktivitas pengeringan gabah secara tradisional di dekat Bendungan Tirtanegara, Majalengka, Jawa Barat. Fenomena El Niño sangat kuat diperkirakan turut meningkatkan tekanan terhadap sektor pertanian dan komoditas pangan. Kredit: Lany Pirna/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
JAKARTA, KLIKINFOKOTA.CO.ID — Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat tengah berlangsung di Indonesia dan diperkirakan membuat awal musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat di sebagian besar wilayah. Kondisi tersebut mulai memberi tekanan terhadap sektor pertanian dan sejumlah komoditas pangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 22 September 2026 menyebut awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim (ZOM), atau 61,08 persen wilayah Indonesia, diprediksi mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologis.
BMKG mencatat indeks ENSO tiga bulanan untuk periode Juli–September 2026 berada pada angka +2,63, yang menunjukkan kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Pada saat yang sama, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada pada kondisi yang turut mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.
BMKG memperkirakan kombinasi El Niño dan IOD tersebut dapat memperpanjang periode kering. Musim hujan yang datang lebih lambat juga diperkirakan berlangsung lebih singkat di sejumlah wilayah.
Sejumlah komoditas menghadapi tekanan
Dampak cuaca kering mulai terlihat pada beberapa komoditas pertanian. Data Dewan Ekonomi Nasional (DEN) untuk minggu kedua September menunjukkan harga cabai rawit secara bulanan meningkat 37,8 persen, sedangkan cabai merah naik 26,8 persen.
Secara tahunan, harga cabai rawit tercatat meningkat 65,2 persen, sementara cabai merah naik 13,9 persen. DEN mengaitkan kenaikan tersebut antara lain dengan keterbatasan air akibat cuaca panas dan fenomena El Niño.
Harga minyak goreng juga tercatat meningkat 9,3 persen secara tahunan. DEN menyebut selain faktor permintaan global, terdapat kekhawatiran mengenai dampak kondisi El Niño terhadap prospek produksi.
Sementara itu, laporan Reuters pada 22 September menyebut dampak kekeringan diperkirakan dapat menekan produksi sejumlah komoditas Indonesia. Produksi tebu diproyeksikan berpotensi turun sekitar 25 persen, sedangkan produksi kelapa sawit pada 2027 diperkirakan dapat turun sekitar 2–8 persen jika kondisi kering berlanjut. Sekitar 30 persen lahan sawah juga disebut tidak memiliki irigasi dan lebih rentan terhadap kekeringan.
Reuters juga melaporkan hasil kakao telah mengalami penurunan hingga sekitar 15 persen pada periode panen utama akibat kekeringan. Namun, angka-angka tersebut merupakan estimasi atau proyeksi dampak dan bukan berarti seluruh produksi nasional sudah mengalami penurunan dengan besaran yang sama.
Risiko terhadap harga pangan
Tekanan produksi tidak selalu langsung berarti kenaikan harga di tingkat konsumen. Harga pangan juga dipengaruhi oleh stok, distribusi, impor, permintaan, dan kebijakan pemerintah.
Namun, perkembangan harga sejumlah komoditas hortikultura menunjukkan bahwa cuaca kering sudah menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Pemerintah juga telah menyiapkan langkah mitigasi. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) masih mencapai sekitar 4,6 juta ton pada pertengahan September 2026, setelah lebih dari 2 juta ton disalurkan melalui berbagai program sepanjang tahun.
Sebelumnya, Bapanas juga menyatakan produksi cabai rawit secara nasional diperkirakan masih mencukupi hingga akhir tahun dan menyiapkan fasilitasi distribusi pangan dari daerah surplus ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan.
Musim hujan diperkirakan mulai November
Reuters melaporkan sekitar 61 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim hujan hingga November. Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember, sementara El Niño diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027 sebelum melemah setelah musim hujan tiba.
BMKG sendiri menekankan bahwa masyarakat dan sektor terkait perlu menyesuaikan langkah mitigasi dengan perkembangan iklim terbaru. Prediksi musim dapat diperbarui seiring perubahan kondisi atmosfer dan laut.
Bagi sektor pertanian, keterlambatan hujan berarti penyesuaian waktu tanam menjadi penting. Petani juga didorong mempertimbangkan varietas tanaman dengan umur lebih pendek serta strategi pengelolaan air untuk mengurangi risiko akibat periode kering yang lebih panjang.
Dengan demikian, dampak El Niño terhadap pangan Indonesia tidak hanya perlu dilihat dari kemungkinan kenaikan harga, tetapi juga dari bagaimana perubahan pola hujan memengaruhi produksi, jadwal tanam, ketersediaan air, dan distribusi pangan hingga awal 2027. (Tim)




