
KLIKINFOKOTA.CO.ID – Suara knalpot bersahut-sahutan, pelajar berboncengan tanpa helm, seragam penuh coretan warna-warni—sebuah “karnaval” tahunan yang hampir tak pernah absen dari jalanan kota-kota Indonesia tiap musim kelulusan tiba.
Tradisi coret seragam dan konvoi kelulusan memang telah menjadi budaya pop khas pelajar Indonesia. Tidak hanya sekadar perayaan, tapi juga penegasan identitas remaja yang ingin “lepas” dari dunia sekolah.
“Buat kami, ini kayak ritual wajib. Rasanya belum sah lulus kalau belum corat-coret dan keliling bareng teman-teman,” kata Dika (18), pelajar SMK di Tanjungpinang.
Budaya ini sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan menjadi semacam tontonan publik. Tapi di tengah kemeriahan itu, muncul pertanyaan: apakah ini bentuk ekspresi yang sehat, atau gejala sosial yang sedang meminta perhatian?
Sosiolog Universitas Mataram (Unram), Arif Nasrullah, LC., M.Hum., mengatakan bahwa fenomena aksi konvoi dan coret seragam saat kelulusan merupakan bentuk selebrasi siswa dalam merayakan kelulusan. “Karena seragam ini identik dengan mereka yang sudah bersusah payah lebih dari 12 tahun terkungkung dengan seragam putihnya. Mulai dari SD 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun,” kata Arif .
Namun, di balik berbagai cerita indah masa SMA, terdapat sisi lain yang memerlukan perhatian, terutama dari para pemerhati pendidikan. Salah satu fenomena yang telah berlangsung cukup lama dan menjadi kebiasaan negatif adalah tradisi coret-coret seragam setelah dinyatakan lulus. Perilaku ini dianggap oleh sebagian pelajar sebagai bentuk ekspresi kegembiraan atas kelulusan mereka .
Menariknya, sejumlah komunitas dan sekolah kini mulai mengubah arah tradisi ini. Mereka menggagas kegiatan alternatif seperti pentas seni kelulusan, mural dinding sekolah, hingga pengumpulan seragam untuk disumbangkan.
Di balik hiruk-pikuk coretan dan konvoi, tersimpan potret khas budaya remaja Indonesia—penuh semangat, kadang tak terarah, tapi selalu mencari ruang untuk dikenang. (Redaksi)




