WASHINGTON, KLIKINFOKOTA.CO.ID – Isu kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih, Washington, Kamis, 24 September 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Xi Jinping mengatakan Amerika Serikat dan China memang berkompetisi dalam pengembangan AI, tetapi kedua negara memiliki alasan yang lebih besar untuk bekerja sama. Menurut Xi, kedua negara dapat memanfaatkan keunggulan masing-masing dan melanjutkan dialog mengenai risiko serta manfaat AI.
Xi juga menyerukan agar kedua negara bekerja sama mencegah penyalahgunaan AI. Salah satu prinsip yang ditekankannya adalah teknologi AI harus tetap berada di bawah kendali manusia dan digunakan untuk kepentingan manusia.
Dialog AI AS-China
Pembahasan tersebut berlangsung setelah pejabat AS dan China sebelumnya membicarakan pembentukan mekanisme dialog khusus mengenai AI.
Pada 20 September, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington mengusulkan mekanisme pemberitahuan mengenai insiden AI yang berkaitan dengan keamanan nasional. Mekanisme tersebut merupakan bagian dari gagasan pembentukan dialog AI antara AS dan China.
Menurut laporan Reuters, pembicaraan tersebut diarahkan pada transparansi, risiko keamanan, dan komunikasi apabila terjadi insiden AI yang memiliki dampak terhadap keamanan nasional. Namun, pada saat itu belum terdapat forum AI bilateral yang telah diformalkan.
Dalam pertemuan Trump dan Xi pada 24 September, kedua pemimpin kembali menegaskan pentingnya mempertahankan dialog dan meningkatkan kerja sama mengenai AI. Pernyataan resmi China menyebut Trump juga mengatakan bahwa AI berkaitan dengan masa depan umat manusia dan AS-China perlu mempertahankan dialog mengenai isu tersebut.
Belum Ada Kesepakatan AI yang Rinci
Meski kedua negara menyatakan keinginan untuk melanjutkan dialog, perkembangan tersebut belum dapat disebut sebagai kesepakatan AI baru yang komprehensif.
Sebelum pertemuan Trump-Xi, sejumlah isu masih menjadi bagian dari pembahasan, termasuk mekanisme keselamatan AI, komunikasi mengenai insiden, serta risiko penggunaan AI untuk kepentingan keamanan. Reuters melaporkan bahwa kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembicaraan mengenai AI, tetapi sejumlah persoalan sensitif masih belum terselesaikan.
Perbedaan pendekatan juga masih terlihat. Xi menekankan pentingnya pengembangan AI yang tetap berada di bawah kendali manusia, sementara laporan Yonhap mencatat adanya perbedaan pandangan antara kedua pihak mengenai penerapan pengaman atau guardrails untuk AI.
Pertemuan Trump dan Xi dengan demikian menunjukkan adanya ruang dialog mengenai tata kelola dan keamanan AI, meski rincian mekanisme kerja sama antara kedua negara masih perlu dibahas lebih lanjut.
Sumber: Xinhua/China Government, Reuters, Yonhap




