
Tangkapan layar dari video The White House/YouTube
WASHINGTON, KLIKINFOKOTA.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Gedung Putih, Washington, pada Kamis (24/9/2026) waktu setempat. Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu utama dalam hubungan kedua negara, termasuk perdagangan, kecerdasan buatan (AI), Taiwan, dan persoalan geopolitik.
Salah satu perkembangan konkret menjelang pertemuan adalah kesepakatan Amerika Serikat dan China untuk memperpanjang gencatan dagang selama dua bulan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan perpanjangan tersebut membuat kesepakatan yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November 2026 diperpanjang hingga 10 Januari 2027.
Perpanjangan tersebut mempertahankan penurunan ketegangan tarif antara dua ekonomi terbesar dunia untuk sementara. Namun, sejumlah persoalan perdagangan belum terselesaikan, termasuk pembelian produk pertanian AS oleh China, pasokan logam tanah jarang, serta pembatasan teknologi.
Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump dan Xi juga membahas perkembangan teknologi AI. Sebelumnya, pejabat kedua negara telah membahas pembentukan mekanisme komunikasi mengenai keselamatan AI dan penanganan insiden yang melibatkan teknologi tersebut.
Isu Taiwan turut menjadi salah satu persoalan sensitif. Pemerintah China menyatakan Xi meminta Amerika Serikat menangani isu Taiwan secara hati-hati dan menentang kemerdekaan Taiwan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan resmi pemerintah China setelah pertemuan.
Selain itu, Xi menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran kembali ke jalur dialog dan negosiasi untuk menyelesaikan persoalan yang sedang berlangsung. Posisi tersebut disampaikan Xi dalam pembicaraan dengan Trump.
Pertemuan Trump dan Xi berlangsung dalam suasana yang lebih stabil dibandingkan periode eskalasi perang dagang sebelumnya. Namun, belum terdapat tanda bahwa pertemuan tersebut menghasilkan penyelesaian menyeluruh atas sejumlah perbedaan strategis kedua negara. Reuters melaporkan bahwa isu perdagangan, AI, Taiwan, dan perang Iran masih menyisakan sejumlah persoalan yang belum terselesaikan.
Bagi perekonomian global, perkembangan hubungan AS-China tetap penting karena kebijakan tarif, rantai pasok teknologi, perdagangan komoditas, dan pasokan mineral kritis kedua negara dapat memengaruhi perdagangan internasional.
Indonesia juga berpotensi terdampak melalui jalur perdagangan dan investasi. Perubahan hubungan dagang AS-China dapat memengaruhi permintaan terhadap komoditas, rantai pasok manufaktur, nilai tukar, serta arus perdagangan di kawasan Asia. Dampak tersebut, bagaimanapun, akan bergantung pada perkembangan kebijakan kedua negara dalam beberapa bulan ke depan.
Untuk saat ini, perpanjangan gencatan dagang hingga Januari 2027 menjadi hasil konkret yang dapat dikonfirmasi. Sementara itu, isu teknologi, Taiwan, dan sejumlah persoalan perdagangan masih memerlukan negosiasi lanjutan. (Tim)



